Alam dan Melankoli dalam “Maskumambang buat Ibu”


Judul: Maskumambang buat Ibu
Penulis: Nenden Lilis A.
Cetakan: Pertama, Oktober 2016
Tebal: 117 halaman
Penerbit: Rumput Merah


Maskumambang buat Ibu adalah antologi puisi Nenden Lilis A. yang kedua setelah Negeri Sihir yang terbit tahun 1999. Selain menulis puisi, sastrawan kelahiran Garut, 26 September 1971 ini juga menulis cerita pendek, esai, dan artikel yang dimuat di berbagai media massa. Kumpulan cerpennya Ruang Belakang telah diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada tahun 2003. Karya-karyanya juga dimuat di berbagai antologi bersama dan telah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, dan Mandarin.

Antologi puisi dua bahasa ini memuat puisi yang ditulis dalam rentang waktu 1996-2014. Antologi yang berisikan 50 puisi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Ian Campbell, Dadang Sadili, Nikmah Sardjono, dan Harry Aveling. Buku ini mengantarkannya ke Jerman untuk turut serta membacakan puisinya di “The 3rd Schamrock Festival of Women Poets”.

Seperti yang tercantum pada judulnya, hampir semua puisi dalam buku ini seperti maskumambang, yakni menggambarkan kesedihan atau duka lara. Puisi-puisi dalam buku ini banyak mengangkat berbagai macam tema seperti cinta, kerusakan alam, kritik sosial, religiusitas, dan lain-lain.

Yang paling menarik dari Puisi Nenden adalah citraan alam yang kuat. Citraan alam itu digunakan penyair tidak hanya sebagai lanskap, tapi digunakan untuk menyampaikan perasaan maupun pikirannya. Simak beberapa baris puisi berjudul “Untitled” ini.

kerit silu batang bambu
jerami teronggok di sawah sunyi
sehabis dipotong ani-ani
itu memang hatiku

Puisi tersebut ditujukan untuk penyair Beni R. Budiman. Puisi itu mengisahkan seseorang yang ditinggal pergi ke alam baka. Hal itu ditandai oleh hadirnya diksi “nisanmu” dan “penziarah” juga latar tempat seperti di pemakaman dengan hadirnya diksi “kemboja” pada fragmen pertama. Dari baris ke baris, pembaca akan disuguhkan dengan suasana yang melankolis. Karena imaji yang dibangun penyair, pembaca akan mudah merasakan kesedihan-kesedihan itu.

Citraan alam yang kuat juga akan kita temui pada puisi “Cisarua”, “Kisah Sebatang Pohon”, “Ode Musim”, dan “Maskumambang buat Ibu”.

Kita juga akan merasakan Paris dalam puisi “Di Jembatan Mirabeau”. Namun Nenden tidak tertarik mengolah apa yang nampak atau berada di situ. Ia memilih meninggalkan “jembatan mirabeau/ dan sajak apollinaire yang menggenang di sungai seine”. Ada kerinduan yang menyebabkannya tak tertarik untuk memotret Jembatan Mirabeau. Kerinduan yang membuatnya memanggil seseorang yang jauh entah dimana.

Selain puisi “Di Jembatan Mirabeau”, ada beberapa puisi yang berlatarkan Eropa, yaitu “Que Sera-Sera”, “Menuju Negeri Dingin”, dan “Di Negeri Pohon-Pohon Kastannya”.

Nenden juga menulis beberapa puisi pendek, yaitu “Yang Terusir”, “Kepulangan”, dan “Kepada Petualang”. Untuk menciptakan puisi pendek, penyair dituntut kerja keras untuk menghadirkan pendalaman tema yang hebat. Hal itu, terlihat pada puisi “Kepulangan” yang hanya terdiri dari dua baris. Berikut kutipan puisinya.

seseorang berjalan di bawah hujan
dan hanya diantarkan angin

Puisi itu seolah mengingatkan pada puisi Octavio Paz yang dalam bahasa Inggris berjudul “The Street”. Puisi “Kepulangan” dan “The Street” sama-sama menceritakan kesepian yang dialami seseorang ketika berjalan. Bedanya, Nenden lebih mengandalkan citraan alam untuk menggambarkan kesepian itu, sedangkan Paz mengandalkan narasi dan sugesti.

Walaupun tidak memilih melakukan berbagai macam eksplorasi, kehadiran antologi puisi ini menjadi sebuah oase di tengah-tengah minimnya penulis perempuan Indonesia. Ditambah keberhasilan dan penghargaan yang diraih Nenden Lilis A. yang membuat citra penyair perempuan Indonesia dikenal di dunia.



_____________________________________________



M. Nasrulah Fajri lahir di Karawang, 4 Juli 1996. Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia. Bergiat di ASAS UPI. Menulis puisi dan catatan-catatan lainnya.